Sebagian orang mungkin tak menduga bahwa Indonesia merupakan cermin negara yang paling membuat bule - bule ngiler oleh sumber daya alamnya. Yang apabila sumber daya alam tersebut bisa terkelola dengan benar, bisa saja Indonesia merajai pasaran internasional. Tetapi apakah begitu kenyataannya? Beemunculannya jawaban - jawaban atas pertanyaan ini bahkan belum dapat menemukan jalan keluar. Terbukti sampai sekarang negara kita masih dibingungkan dengan adanya masalah - masalah yang seharusnya dapat diminimalisir, seperti korupsi, tuna wisma, dan tuna karya. Hal ini juga pada akhirnya memunculkan cermin lain dari Indonesia yang kaya raya ini, yaitu "Kurangnya kemampuan masyarakat untuk memaksimalkan sumber daya manusianya".
Maksimalnya sumber daya alam tidak semua negara memiliki, tetapi sumber daya manusia tentu saja dapat diciptakan oleh seluruh negara. Itulah seharusnya yang menjadi tonggak bagi sebagian orang Indonesia yang telah frustasi dengan kegagalan daya manusia Indonesia. Bahwa masyarakat mampu untuk memperbaiki situasi dan menunjukkan pada negara lain sebagai pemilik tunggal kekayaan alam yang mutlak ini.
Poin utama dari bahasan ini sebenarnya adalah : Harapan untuk seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya bekerja keras demi urusan kantong serta kebahagiaan diri semata. Harus diketahui bahwa masih ada kepentingan yang sangat penting yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang mencintai negaranya, itulah pengabdian. Kecerdasan orang Indonesia ini sungguh tidak diragukan lagi, tetapi apakah kecerdasan tersebut telah sesuai sasaran?
Berbicara mengenai kecerdasan, Jepang adalah negara dengan luas kira - kira 5% dari Indonesia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu mengarahkan kecerdasan tersebut pada "wadahnya".
Jepang merupakan negara yang sempat terlibat pada perang dunia II, yang kemudian dua kota yang berpengaruh di negeri sakura tersebut rata oleh bom atom. Dan saat itu juga lah Indonesia terentas dari penjajahan (1945). Dari waktu tersebut dapat terhitung bahwa titik memulai kehidupan di kedua negara ini bebarengan. Dengan kata lain "They started at the same point and the same time". Tetapi apa yang terlihat? Jepang memimpin jauh di depan Indonesia dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan saat muncul kabar bahwa Jepang kebingungan menghabiskan anggaran negaranya pada bulan April 2013, Indonesia masih dibingungkan oleh masalah - masalah korupsi, kemelaratan, dan lain sebagainya.
Berikut ini adalah kutipan dari blog orang Indonesia yang menyekolahkan anaknya di Negeri Sakura :
"1. Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
2. Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
3. Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka."
Dari kutipan tersebut, terlihat jelas beberapa aspek yang sampai saat ini tidak nyata diamalkan di Indonesia. Pendidikan moral di Indonesia masih kurang, sehingga rasa memiliki negara atau sikap nasionalisme masih lemah. Pelajaran pertama, bahwa Indonesia masih harus menekankan pelajaran moral dan bagaimana pelajaran tersebut diamalkan. Dari kutipan tersebut juga, penulis juga mengungkapkan kekagumannya pada sistem pendidikan Jepang yang mengajarkan anak didiknya untuk menjaga harga diri, memiliki rasa malu, dan jujur serta tidak hanya mengorientasikan kepandaian hanya pada materi atau harta. Pelajaran kedua yang dapat diambil adalah Indonesia harus lebih menebalkan harga diri serta rasa malu. Seharusnya pada keadaan seperti ini Indonesia telah malu karena kasus - kasus korupsi serta merajanya investor - investor asing yang memanfaatkan SDA ( Sumber Daya Alam ) Indonesia. Kasus - kasus seperti korupsi ini tidak lain merupakan dampak apabila ilmu hanya diorientasikan pada uang, yang berarti menuntut ilmu hanya untuk mencari nilai dan hanya sebatas mencari pekerjaan. Pada poin ketiga yang diungkapkan oleh penulis kutipan di atas adalah pengembangan ajaran moral yang membuat anak - anak di Jepang memiliki sikap "menghargai". Baik itu menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, menghargai lingkungan, menghargai kelompok, dan menghargai waktu. Sikap menghargai itu lah pelajaran ketiga yang perlu kita amalkan demi menuju Indonesia yang disiplin, bersih lingkungan dan jiwa, serta saling menghormati antar sesama. (HDC)
Melirik negeri tetangga menjadi penting bukan? Semoga menjadi bermanfaat dan dapat membuat Indonesia berbinar di mata dunia. Amin.
0 komentar: