Malam minggu gini paling enak
nulis, apalagi ditemani dengan kenangan-kenangan galau masa lalu, wih semakin
lancar nulisnya, inspirasi datang dengan cepat dan tajam, setajam sile*t. Kali ini bahas apa ya enaknya, sengaja judulnya
gak jelas seperti itu supaya bisa ditarik garis kemanapun dan apapun titik temu
pembahasan yang ingin disampaikan.
Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sempat ramai
masalah politik, sehingga ada beberapa kelompok yang mau tidak mau harus
terlibat. Entah itu POLRI, TNI, Ulama, sebagian umat muslim dan sebagian rakyat
Indonesia pada umumnya. Rasanya jika saya membahas yang berhubungan dengan
politik, trauma itu akan terjadi lagi, karena sensitifitas kebanyakan orang
sekarang bukan hanya pada agama, ras, dan suku, melainkan sudah melebar ke
pilihan politik. Yasudahlah, kita tangguhkan masalah politik, kita bahas yang
lebih ringan saja. Apa ya?
“Buatin kopi
ya, gak usah pakai gula.”
Saya teringat wejangan leluhur
Jawa kita tentang bagaimana menciptakan kehidupan harmonis dengan alam dan
manusia. Mungkin istilah ini sudah banyak yang memahami, ‘Memayu Hayuning Bawana’ atau jika diterjemahkan ke bahasa isyarat,
artinya seperti ini ‘----------‘ bagus kan ya artinya. Jika belum mengerti,
jika diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia artinya ‘Mempercantik Kecantikan
Bumi/Jagat’. Luar biasa jika saya mendalami perkataan itu. Bagaimana mungkin
orang jaman dahulu berpikir dalam seperti itu. Maknanya sungguh luar biasa, mempercantik
jagat yang sudah cantik ini. Jika berbicara mengenai jagat, sebenarnya ada
beberapa aspek atau subjek yang harus dipercantik, entah itu alam atau manusia.
Jika sasarannya manusia saja, secara kultural nenek moyang kita punya istilah ‘Memayu Hayuning Bebrayan’.
Yang ingin saya tekankan disini
adalah bagaimana orang-orang jaman dahulu memposisikan alam. Jika kita telaah
kebudayaan baik itu yang berbentuk performa atau ritual, terutama di Jawa,
pasti ada kaitannya dengan alam dan keterlibatan manusia. Jangan bilang syirik
atau musrik dulu ya, saya bisa berdebat panjang tentang masalah itu. Kita ambil
pelajaran dulu saja.
(Kopi yang
nikmat, Allah memang luar biasa)
Leluhur-leluhur kita mengenal alam
sebagai partner sebagaimana manusia. Maka dari itu barang-barang ‘mati’ dari
alam diberi julukan seperti manusia. Gamelan diberi nama ‘kiai’, keris diberi
nama ‘kiai’, bahkan kerbau diberi nama ‘kiai’. Semua aspek budaya pasti
melibatkan alam atau hasil alam, kemenyan, bunga, air, bulu merak, punden, dan
masih banyak yang lain. Mereka seakan-akan memang bersahabat dengan alam, sehingga
saya tidak menemukan literatur yang menyebutkan, bahwa Patih Gajahmada atau
Prabu Siliwangi membakar hutan untuk perluasan area mereka, atau menebang hutan
untuk membangun istana. Berbeda dengan kehidupan sekarang, ada beberapa pihak
yang menganggap alam sebagai barang mati yang bisa diperjual-belikan, sehingga
alam hanya ada untuk dieksploitasi. Pohon ditebang, sawah menjadi gedung,
tambang dikeruk sampai habis dan tidak memerhatikan bagaimana nasib alam itu
sendiri. Dampaknya? Sudah bisa dirasakan, tidak perlu saya jawab.
Jika orang dulu memperlakukan alam
saja seperti itu bagaimana dengan memperlakukan manusia, pasti lebih dari itu. Apakah
hal tersebut bertentangan dengan islam? Oh tidak, salah besar jika ada yang
meng-klaim bahwa kebudayaan dan ritual-ritual tersebut bertentangan dengan
islam padahal dia belum tahu prosesnya, makna kebudayaan itu, kenapa mereka
melakukan itu, simbol-simbol di kebudayaan itu. Sungguh saya menjumpai bahwa
ritual dan kebudayaan di Jawa punya makna yang malah dianjurkan oleh agama.
Jadi, jangan mencela orang atas dasar ketidaktahuan kita. Memang saya akui
masih ada yang menyimpang, tapi penyimpangan itu tak usah menjadi legalitas
diri kita untuk menyalahkan oranglain. Cukup untuk perbaikan diri kita sendiri
saja. Masalah religiusitas, biar setiap diri pribadi saja yang bertanggungjawab
dengan Allah. Ngunu yo ngunu ning ojo
ngunu,menyimpulkan syirik ya boleh tapi pahami dulu, cari tahu dulu, terlibat
dulu, walaupun kita sudah tahu, itupun kita tidak bisa menyimpulkan mereka
syirik. Memangnya siapa kita?
‘Khoirunnass anfa’uhum linnass’, sak becik-becik e manungso yo ingkang
manfaat. Ini hadist Rasulullah, sesuai dengan metode kebudayaan yang ‘Memayu Hayuning Bebrayan’. Menjadi
bermanfaat itu tidak memandang kepada siapa kita berbuat baik, tapi yang
dipandang Allah untuk menjadikan diri kita baik adalah bagaimana kita
memposisikan manusia yang lain, menghormati yang lain, tidak ngerasani yang lain, tapi ya ngerasani titik gakpapa lah, biar hidup
ada bumbunya. Hehe
Anehnya, konsep jawa seperti
diatas justru ada sebelum Islam masuk ke Nusantara. Lalu siapa yang mengajarkan
nilai-nilai islami tersebut? Tentu saja hati dan pola pikir manusia itu sendiri.
‘Tanpa’ Islam sekalipun, jika kita berhasil menjadi ‘Manusia utuh’ itu saja
sudah cukup, disempurnakan lagi dengan adanya Islam, semakin mulia manusia itu.
Makanya sebenarnya kunci beragama itu bukan syari’at, bukan fatwa, tetapi kunci
beragama adalah akal. Allah berkali-kali mengingatkan, ‘Afala Taqilun, afala
tatafakkarun’. Manusia wajib menjalankan islam secara benar-benar ya
ketika baligh dan sehat akalnya. Oleh sebab itu, jangan beranggapan bahwa Islam
hanya tentang sholat, sedekah, zakat, haji, dan ibadah-ibadah syari’at. Tetapi Islam
juga mencakup keluasan berpikir, astronomi, matematika, biologi, taksonomi,
kimia, semua merupakan Islam. Jadi, jangan menjadi sekuler. Sekuler disini
adalah membeda-bedakan mana urusan agama dan mana yang bukan urusan agama.
Semua adalah Islam tanpa terkecuali.
“Kopi tinggal
seteggukan, kubuat yang terakhir ini menjadi rasa yang lebih nikmat dari
tegukan sebelumnya”
Jika Memayu Hayuning Bebrayan saja punya hadist, bagaimana dengan Memayu Hayuning Bawana ya. Tentu ada
juga, kan islam mencangkup semuanya. Konsep Memayu
Hayuning Bawana ini sangat luas karena mencangkup ‘jagat’, baik itu jagat alit maupun jagat gedhe. Konsep ini sangat cocok dengan konsep Islam yang
digemborkan di Indonesia, Rahmatan
Lil’alamin. Kembali sedikit kita gali tentang rahmat seluruh alam ini,
apakah ini konsep Islam atau konsep gelembung kecil bagian dari Islam yaitu
manusia. Padahal konsep rahmat semesta alam adalah dimaksudkan Allah untuk Nabi
Muhammad. Namun, memang Islam harus mencontoh Nabi Muhammad sebagai wasilah menuju Allah. Bagaimana aplikasi
rahmat semesta alam ini? Karena ada kata semesta, sebenarnya jangkauan peran
manusia sebagai orang Islam dan sebagai orang Jawa yang punya konsep Memayu hayuning Bawana sangat luas
sekali. Karena yang dinamakan semesta adalah bumi beserta isinya dan yang
diluar bumi beserta isinya. Hubungan kita dengan manusia, alam, jin, iblis,
malaikat, tanah, laut, udara, proton, elektron, planet lain, dimensi lain, dan
seluruh yang Allah sudah ciptakan patut kita akui dan berbuat baik kepada
mereka semua. Jadi, begitu kayanya seorang manusia jika dapat memahami
peranannya di bumi yang sangat kecil ini. Oleh sebab itu Allah mengingatkan
kita, kebaikan sekecil apapun pasti ada balasannya. Karena suatu kebaikan yang
kita berikan akan ditangkap oleh sesuatu yang kasat mata maupun tidak kasat
mata, semua makhluk Allah bekerja untuk memudahkan dan membantu kita yang
sedang berbuat baik, semua atas ijin Allah.
Jadi teman-teman, mari kita tadaburi maksud ngunu yo ngunu ning ojo ngunu dalam peran kita kepada alam semesta
ini. Bisa banyak sekali maknanya, bisa ‘berbuat baik ya berbuat baik tapi
jangan menghardik’, bisa juga ‘mengajak kebaikan ya mengajak kebaikan tapi ya
jangan kasar’, dan banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain. Kita manfaatkan
semua kemungkinan untuk kebaikan agar energi negatif dan pengaruh negatif tak
punya ruang yang cukup besar atas kendali diri kita, akal kita, dan emosi kita.
“Cangkir sudah kosong, baris
akhir sudah ku ketik. Laptop kembali ku tutup. Sampai jumpa untuk kita semua.
Manusia agung yang namanya selalu dirindukan penduduk bumi dan langit.”

0 komentar: