Sudah menjadi hal yang lumrah suatu gotong royong dan kebersamaan di Indonesia ini. Sepatutnya, kita tak perlu mewacanakan kasus-kasus ini lagi, toh, yang rebut juga yang itu-itu saja. Alangkah lebih arif jika kita semua menoleh kepada nenek kita yang bernama Semut. Ia lebih tua dari kita. Sebuah makhluk Allah yang namanya abadi di kitab suci, sebuah binatang yang sudah hidup mungkin sebelum manusia diturunkan di bumi.
Manusia ini adalah sebaik-baiknya pembelajar, ia belajar dari alam sekitar. Ia mengadopsi tatanan nilai alam, baik yang hidup ataupun yang dikatakan mati. Terlebih lagi, sering mengadopsi nilai social dari kelompok semut. Semut ini sangat istimewa, ia sudah tercatat dalam sejarah, namanya terukir dalam tinta Sulaiman Alaihi Salam sebagai makhluk yang mampu menghentikan Nabi Sulaiman dan para pasukan beliau. Kalau kita coba berpikir realistis, sebenarnya kenapa Nabi Sulaiman berhenti agar tak menginjak semut, bukan karena sang Nabi mampu memahami bahasanya saja. Melainkan, mungkin, karena sang Nabi juga memahami siapa itu semut. Binatang kecil yang diremehkan, namun penuh ketauladanan.
Aku tak ingin mengajak membahas mengenai cerita Nabi, karena aku bukan ahli dalam bidang itu. Namun, aku ingin mengajak kalan semua mengetahui bagaimana komunikasi para semut kepada koloninya. Kok bisa, missal, ada sebutir gula di tempat yang awalnya tak ada semut, tidak lama kemudian langsung ada banyak semut bergerombolan. Apakah para semut ini mempunyai kemampuan teknologi seperti handphone, sehingga ketika satu semut melihat sebutir gula, lalu ia langsung mengirim pesan berantai kepada koloninya di goa? Ditambah lagi, bagaimana mereka begitu ikhlas, dalam artian, ketika ada kue yang jatuh ke lantai, satu semut tidak akan mengambil dan membawa cuilan kue tersebut di masing-masing tangannya. Ia memahami porsi, hanya sedikit yang diambil dan dibawa pergi. Sisanya adalah untuk semut-semut lain yang mereka semua juga memahami porsi.
Kalau kalian tidak percaya, coba lakukan eksperimen dengan cara, menaruh satu butir gula di lantai, kemudian tunggu sampai ada semut yang bergerombol di kawasan gula tersebut. Setelah mereka Nampak bergerombol, coba taruh satu sendok gula di dekat gerombolan itu. Apakah semut yang sudah mendapat jatah satu butir gula tersebut langsung meninggalkan sebutir gula itu dan berpaling ke gula yang lebih banyak? TIDAK!!
Kemarin, aku mencoba berbincang dengan seekor semut mengenai jiwa mereka. Dan aku mendapatkan satu informai mengenainya. Informasi tentang bagaimana cara koordinasi mereka dengan koloni mereka. Jadi setiap semut sebenarnya mempunyai peran dan fungsi. Ketika ada kasus menemukan kue yang jatuh di lantai, maka mereka langung bekerja.
1. Seekor semut yang mengetahui letak dan kordinat kue itu mendekati dan mencuil sedikit irisan kue untuk dilaporkan kepada koloni. Seekor semut ini bertindak sebagai penemu dan peninggal jejak.
2. Setelah mencuil kue tersebut, semut itu akan ke sarangnya dengan cara meninggalkan entah itu cairan dari tubuhnya atau gesekan roti ke jalur yang dilaluinya menuju sarang. Hal ini ditujukan agar koloni yang bertugas mengangkat kue mengetahui letak kordinat kue tersebut dengan melewati jalur yang sudah dibuat oleh semut pertama.
3. Setelah semut itu sampai sarangnya, dia melaporkan kepada koloninya. Dan akhirnya koloni-koloni itu berdatangan melewati jalur yang sudah ditentukan oleh semut pelapor. Oleh sebab itu, biasanya kita lihat semut cenderung berbaris ketika berjalan, padahal mereka bisa saja menyebar ketika berjalan, toh tempatnya juga masih luas. Rupanya semut ini tertib, mengikuti alur yang sudah dibuat oleh semut pertama.
4. Setelah koloni semut sudah sampai di kue, ia mengerjakan tugasnya. Mencuil dan sedikit menikmati kue itu di tempat, cuilan kue akan dibawa pulang oleh masing-masing semut.
Setidaknya seperti itu bocoran ketika aku mengobrol dengan semut. Saat itu juga, aku manggut-manggut karena ternyata sebuah makhluk yang sering kita remehkan justru lebih unggul daripada kita. Semut tidak kemaruk, ia mengetahui porsi. Sedang kita, lebih memilih yang lebih menguntungkan kita. Jika sedang ada proyek senilai 1 miliar, kemudian diberi proyek yang nilainya 5 miliar, kita akan memilih yang banyak dan meninggalkan yang proyek kecil. Atau mungkin karena kemaruknya manusia, ia mengambil baik proyek 1 miliar dan juga proyek 5 miliar.
Setidaknya kita dapat ilmu baru ya. Alhamdulillah.terimakasih semut, kita banyak belajar dari kalian. (Ilmu Maiyah)

0 komentar: