Aku tetiba berpikir tentang kemajemukan yang akhir-akhir ini menjadi trending theme untuk acara-acara perpolitikan bangsa. Rupanya majemuk bukan hanya hadir dalam golongan, bahkan dalam hal satuan individu, kita sudah menemukan kemajemukan. Majemuk bukan tentang banyaknya kelompok, bahkan diri sendiri juga majemuk.
Lantas, aku mencoba mengeksplorasi tentang satu suku yang rupanya juga menyimpan banyak sekali kemajemukan. Suku Jawa. Pertama, perlu digarisbawahi bahwa aku bukan bermaksud Jawa-sentris ataupun Primordial. Karena aku hanya memahami mendalam perihal suku Jawa, maka yang ku bahas adalah suku Jawa. Jika kalian dari Sunda atau Batak, atau apapun, maka berceritalah dan berbanggalah dengan suk kalian masing-masing. Primordial itu tindakan ketika aku beranggapan bahwa Jawa lebih baik dari yang lainnya. Dan dalam tulisan ini, tidak ada anggapan yang tersirat dan tersurat bahwa Jawa lebih baik dari yang lain.
Kenapa Jawa?
40% penduduk Indonesia adalah orang Jawa. Tidak hanya itu, orang-orang Jawa juga dapat menjelajahi dunia dan mendirikan suatu Negara bernama Suriname. Jika kita mundur beberapa langkah kebelakang, kita mengetahui bahwasannya bakal Indonesia adalah kewilayahan Majapahit zaman dahulu yang itu juga terkordisir dalam pemerintahan yang terletak di Jawa. Tidak puas dengn itu, rupanya jauh sebelum Majapahit ada, peradaban dinasti Syalendra mampu menciptakan atmosfer megah dalam Candi Borobudur dan itu juga di Jawa. Kurang yakin dengan prestasi itu, bahkan Kerajaan Dhaha yang berada di Jawa, menurut catatan merupakan bangsa paling kaya ketiga setelah China dan Arab dibawah Dinasti Abbassyah. Masih ada banyak lagi potongan-potongan adidaya Jawa, namun tak bisa dijelaskan semuanya disini.
Lalu, apa?
Kemajemukan Jawa sangatlah ‘nyeleneh’, walaupun satu suku, setiap daerah mempunyai logat dan bahasa turunan yang berbeda-beda. Sehingga, ketika mengobrol dengan teman, aku kadang juga tertawa ketika mendengar beberapa kata yang aku tak pahami, padahal kita sama-sama dari Jawa. Selain itu, hal mainstream yang dipahami jelas dalam perbahasaan di Jawa adalah mengenai tingkatan. Jawa memiliki tiga lapis bahasa yang fungsinya digunakan untuk lapisan-lapisan lawan bicara yang berbeda-beda. Ada Ngoko, Ngoko Alus, dan Kromo Inggil. Ketiga tingkatan itu sangatlah berbeda bahasanya. Alasan bisa lahir bahasa-bahasa seperti itu karena rupanya Jawa memperhitungkan adab kesopanan dan keakraban dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Selain bahasa, induk aksara masyarakat Jawa terletak pada aksara ‘Ha-Na-Ca-Ra-Ka’. Ada 20 butiran dari ‘Ha’ hingga ‘Nga’. Percayalah, semua bahasa Jawa bahkan bahasa apapun bisa masuk kedalam system aksara ini. Tak heran jika akhirnya masyarakat Jawa yang ruang lingkupnya di pesantren, biasanya menerjemahkan bahasa Arab gundul atau belajar Nahwu-Shorof dengan pendekatan bahasa Jawa.
Suku Jawa ini bisa dikatakan hidup dalam ruang lingkup falsafah dan filosofi Jawa yang kuat. Tak heran jika kehidupan orang Jawa dekat dengan cerita-cerita legenda, sejarah, dan cerita lokal yang dapat dibawakan kepada generasi penerus untuk diambil intisari pesannya. Disitulah falsafah dan filosofi Jawa sering disisipkan. Lalu, apakah nilai dan falsafah Jawa di saat globalisasi ini sudah mulai dilupakan oleh empunya? Barangkali bukan dilupakan, kita sedang mencicipi masakan lain dan suatu saat akan sadar bahwa yang paling nikmat adalah masakan ibu kita sendiri. Oleh karena itu, di dalam benturan-benturan nilai Arab dan Barat yang begitu mendominasi saat ini, kita sebagai orang Jawa punya penyeimbang. Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat. Kita hendak melakukan apa saja, seharusnya kita masih membawa nilai adiluhung budaya kita. Karena budaya adalah pembeda bangsa. Jika kita sudah menjadi sama semua, apa beda kita dengan mereka?

0 komentar: