Sekiranya berat badan rupanya menjadi masalah yang bisa dibilang krusial untuk para perempuan dan wanita dan cewek dan girl dan woman dan lady dan terserah apa namanya. Isu sensitif yang rupanya mampu membawa pada aliran negatif raut wajah, suasana, dan juga perasaan. Coba kalau tidak percaya, jika kamu punya teman yang tidak kurus (aku mencoba menghindari kata gendut), ketika kalian ngobrol, kemudia potong pembicaraannya dan katakana ‘Kamu gendut ya’. Apa reaksi dia? Kamu dicincang atau di Smackdown atau bahkan ditumis pakai racikan bumbu Sa*ri Saos Tiram?
Sekiranya itu yang membuat tidurku tak nyenyak, makanku tak nikmat. Aku mencoba berpikir, kenapa bisa begitu. Kenapa manusia indah yang bernama perempuan bisa begitu sensitif dengan berat badan. Dari permasalahan diatas, akhirnya aku berhasil menciptakan formula untuk menurunkan berat badan dan dilengkapi penjelasannya. Ingin tahu? Atau ingin tempe? (garing ya, kriuk deh)
Cara Menurunkan Berat Badan:
1. Jangan Naikkan Berat Badan
2. Lakukan Usaha Untuk Menurunkan Berat Badan
Sekiranya ada dua cara yang aku ketahui, bisa dipraktekkan di rumah, di sekolah, dan di sawah.
Oke, serius. Polemik yang ku pikirkan bukan tentang cara menurunkan berat badan, tetapi kenapa perempuan begitu sensitif terhadap berat badan. Jadi ada beberapa keywords disini, yang pertama adalah Stigma. Yang kedua adalah, Minder.
Stigma dan Minder
Apa yang dimaksud stigma? Stigma atau paradigma adalah sebuah sudut pandang mainsream yang diyakini sebagai standar umum. Ukuran atau standar ideal dan cantik pada wanita sangat berhasil dibentuk oleh sebuah iklan. Sehingga kita meyakini bahwa cantik itu harus ramping, putih, rambut panjang, tinggi. Padahal, memang itu cantik sih. Tapi yang tidak memenuhi kriteria tersebut apakah tidak cantik? Nah, rupanya stigma kita terpengaruhi oleh model iklan. Oleh karena itu, karena iklan-iklan di televisi dan media lain selalu menggunakan model yang seperti itu, terutama untuk model iklan kosmetik, kita menjadi tergiring opininya bahwa definisi cantik adalah seperti ‘itu’.
Kita (perempaun) seakan kehilangan kemandirian untuk menciptakan standar kita sendiri. Sehingga merasa belum cantik jika belum seperti itu, itu, dan itu. Belum merasa cantik jika belum menjadi itu, itu dan itu. Hei, kalian itu sudah cantik walau tanpa make up sekalipun. Cantik itu perkara rohani, tidak ada kaitannya dengan make up. Eh, ada ding sedikit. Jadi untuk menjadi cantik, cukuplah merawat sewajarnya anugrah yan telah diberikan Tuhan, dan jangan forsir dirimu untuk menjadi kurus. Kalau sudah gendut ya gendut saja. kan lumayan bisa jadi pelampung saat banjir. Hehe, bercanda.
Bagaimanapun bentuk fisik kalian, syukuri. Jangan minder dan tidak percaya diri. Ukuran cantik tidak pada apa-apa yang diluar diri kamu. Cantik adalah apa saja yang turut menyatu dalam diri kamu. Beauty is inside, not outside. Jadilah diri kalian yang nyaman. Yang apa adanya. Karena lelaki disana, menunggu kecantikan alamimu, bukan cantiknya bedak dan brand kosmetik yang menempel di seluruh wajahmu. Terutama alis yang warnanya sangat mencolok itu.
Wanita harus percaya diri. Percaya dengan ‘diri’nya, bukan percaya pada ‘kosmetik’nya. Yaa, ini alibi juga untuk para lelaki, biar setelah baca ini, para perempuan jadi sadar bahwa yang penting itu dirinya bukan kosmetiknya. Jika sudah sadar, kan jatah untuk beli kosmetik bisa dikurangi. Biar para suami muda terbantu sedikit. Hahahaha
Tidak, tidak, kalian memakai make up juga tidak masalah. Yang tidak boleh adalah jika kalian minder dan mencoba untuk menjadi oranglain agar bisa dikatakan cantik. Tak perlu. Be yourself.
Udah ah, sekiranya itu saja. maaf kalau ada salah kata, tidak berniat sedikitpun untuk menyinggung. Kalian semua luar biasa. Sedangkan saya, biasa diluar :(

0 komentar: