![]() |
| Source: tribun jambi |
Pernah dengar nama susan yang disandingkan dengan sebuah boneka? Ia memiliki lagu yang sebagian liriknya, “Susan..Susan..Susan..kalau gedhe mau jadi apa…”. Pasti pernah mendengar lagu itu. Masa kecil saya diisi oleh lagu anak-anak, dan salah satunya adalah lagu-lagu dari Susan. Sampai saat ini, saya masih punya CD nya. Dan masih sering diputar karena di rumah ada anak kecil.
Sekilas, saya merasa seperti menjdi anak kecil lagi ketika mendengar lagu itu. Namun, kali ini saya memikirkan hal yang entah ini pikiran apaan, gak penting-penting amat.
Ketika jaman saya masih kecil, saya sangat percaya bahwa Susan ini adalah sebuah makhluk hidup yang dikaruniai akal dan hati, namun ia sedikit agak ‘cacat’. Jujur, saya berpikir seperti itu. Saya kira itu bukan boneka, dan sosok perempuan cantik yang selalu menemani Susan, saya kira dahulu adalah ibunya yang sangat mencintainya, kemana-mana selalu bersama, karena, saya berpikir saat itu, Susan tak akan mampu melakukan apa-apa di kondisinya yang ‘cacat’.
Semakin dewasa, Alhamdulillah saya tidak bodoh terus-terusan. Setidaknya, tingkat kebodohan saya berkurang walaupun sekarang masih saja bodoh. Setidaknya saya mengetahui bahwa Susan itu adalah ‘sebuah boneka’ dan sosok perempuan itu bukan ibunya, melainkan pengisi suara yang mampu berbicara dengan nada dan intonasi kecil tanpa menggerakkan sepasang bibir. Vangke, masa kecil saya tertipu.
Di masa dewasa ini, dengan objek yang sama, yaitu Susan yang dulu nipu saya, mampu melahirkan masalah yang berbeda dengan ketika saya unyu dan polos dahulu. Ketika kecil, masalah saya adalah sekedar ‘siapa Susan’, namun saat ini, lebih ke ‘Kok bisa ya dulu saya percaya bahwa Susan adalah makhluk Tuhan yang hidup’. Rupanya, kehadiran strategi eksistensialis yang mampu mem-branding Susan agar terlihat seperti hidup.
Untuk menjadi ‘Ada’, seseorang harus melakukan usaha untuk menunjukkan keberadaannya. Begitu pula dengan Susan. Kalau ia hanya berperan sebagai boneka, sifat eksistensialis nya tidak akan lebih nampak jika dibandingkan dengan sosok bernyawa.
Kunci eksistensialis adalah ‘ada’, atau setidaknya ia mengusahakan usaha untuk menunjukkan eksistensinya. Biasanya keber-ada-an itu dilampiaskan dengan kebebasan berekspresi. Sehingga setiap individu mempunyai penglman dan bobot usaha menghadirkan output ke-ada-an masing-masing. Salah satu contoh eksistensial adalah saya memposting tulisan ini di blog. Ini adalah salah satu usaha agar setidaknya masyarakat menganggap bahwa saya ‘ada’ dan ‘eksis’ dalam kegiatan menulis. Tergantung objek sasaran yang dituju, ingin dibawa kemana eksistensialis masing-masing insani.
Susan? Awalnya ia idak ada. Ia bisa menjadi ada karena ia disandingkan dengan Si Empu-nya yang melakukan usaha agar Susan terlihat ada. Usaha apa saja? Pertama, usaha bisa berbicara layaknya manusia. Kedua, usaha berkreasi dan berekspresi dengan bernyanyi. Ketiga, usaha memiliki cita-cita layaknya manusia. Bisa dilihat di lirik lagu yang “Susan..Susan..Susan..kalau gedhe mau jadi apa.” Itu adalah usaha-usaha peng-ada-an sesuatu yang awalnya tak ada. Jadi wajar, jika saya dahulu terkecoh karena rupanya usaha eksistensialis ini benar-benar berhasil mengecohku yang dungu.
Wait, apakah saya terlampau jauh menyikapi Susan? Hmm..jangan bahas Susan saja. usaha eksistensialis ini juga bisa dilihat dalam catur kehidupan saat ini. Contohnya, jualan kaos dengan Hastag 2019 Ganti Presiden, merupakan usaha eksistensialis agar produknya terlihat ada.dan lagi, menyikapi debat yang berhubungan dengan politik, setidaknya kita jadi paham bahwa setiap pelantun argument mempunyai hak dan kebebasan berekspresi sehingga menimbulkan kesan bahwa mereka ‘ada’, dan ‘terpandang intelek’.
Wong ya sejatine urip kuwi mung panggung sandiwara. Jadi, nikmati sandiwara semua ini.

0 komentar: