Bisakah kita menangkap angin, membungkus ombak, dan mengkemas cahaya? Kalau saya pribadi, tidak bisa. Namun, bisakah kita merasakan s...

Cinta dan Hakikatnya



Bisakah kita menangkap angin, membungkus ombak, dan mengkemas cahaya? Kalau saya pribadi, tidak bisa. Namun, bisakah kita merasakan sejuknya angin semilir, merasakan hantaman ombak, dan merasakan hangatnya cahaya menyentuh kulit kita? Kalau saya pribadi, bisa. Pasti, kalian semua juga memiliki jawaban yang sama. Ada berapa hal yang kita bisa lakukan dan ada berapa hal yang kita memang ditakdirkan untuk hanya merasakan. Materi, bisa digapai. Immateri, bisa dirasakan. Yang tidak bisa di-apa-apakan hanyalah kebodohan yang terus dipupuk tanpa tahu aturan dan batas kewajaran. 

Di dunia ini, kita tak perlu menjadi apa-apa, kita tak perlu berlaga seperti siapa-siapa, dan tak perlu sibuk pamer kemana-mana. Apa yang bisa disombongkan dari semua titipan yang menempel raga ini? Apa yang patut dipuji dari kebodohan tindak-laku yang belum kita sadari? Bukankah tugas kita hanya mencinta, tanpa mengetahui alasan kenapa mencinta. Ijinkan saya, dengan segala kerendahan dan kebodohan saya, mengungkap apa itu cinta. Apakah cinta itu sebuah materi? Atau justru ia adalah sesosok immateri? Jika kita bisa melihat dan menyentuhnya, maka ia adalah materi. Namun jika hanya bisa merasakannya, dan rasa itu terkadang membuat sesak dada atau membuat semangat raga, maka ia adalah sebuah zat tak kasat mata yang disebut, rasa. 
Tak perlu sensitive melulu membahas mengenai cinta, karena ini tak mesti kita sandingkan dengan sosok lawan jenis di kepala. Tugas kita sebagai pecinta hanya satu, dan jika kita tangguhkan tugas itu, maka tak bisa disebut sebagai pecinta. Tugas pecinta ialah, terus mencinta. 

Mahabbah. Satu kata beribu objek sandingan makna. Cinta, adalah tugas utama manusia dan juga alasan Tuhan menciptakan kita. Allah berfirman dalam Hadist Qudsi yang artinya saya gubah dan semoga tidak mengubah maknanya, “Laulaka Ya Muhammad, Maa Kholaqtu al aflaq”. “Kalau tidak karenamu, Muhammad, maka tidak aku ciptakan jagat ini.” Kita, adalah produk cinta kasih Allah terhadap Muhammad. Kita adalah cinta itu sendiri. Selamanya, kita berada dalam bulatan cinta. Dan Mizan Allah bukanlah hitungan sistematis aritmatis, melainkan mizan Allah adalah ukuran tingkat kecintaan kita kepada-Nya. 

Jika, jagat ini saja diselimuti cinta, wahai kekasih, kenapa saya tak bisa mencinta. Sedang tugas saya adalah mencintai-Nya dan mencintainya. 

Lelaki, jangan mencintai wanita yang berakal, mempunyai visi, dan suka membaca, ia akan mampu menjebakmu dalam cerita panjang tak berkesudahan. Semakin lama engkau terjerat kepandaiannya, semakin tak kuasa engkau meninggalkannya. Berat. 

Jangan pula mencintai seorang wanita periang, humoris, dan suka menulis. Ia akan menjeratmu dalam suasana berbeda sepanjang waktu, menggoreskan bahasanya kedalam cerita hidupmu. Sampai, engkau tak akan sadar bahwa engaku sedang jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama dan kadar yang semakin bertambah setiap waktunya.

Hai, wanita, jangan mencintai lelaki yang benar-benar lelaki. Karena, mereka semua sama saja. Sama-sama membutuhkan sosok wanita untuk diperjuangkannya. 

Ah, malam ini sedikit berbeda. Saya merasakan cinta dalam ke-Agung-annya. Ya Allah, Gusti ingkang tan kena kinaya ngapa, adakah syarat untuk mencintai-Mu jika hamba ini tak punya sedikit kesanggupan untuk memenuhi syarat-Mu? Maka perkennkan hamba untuk mencintai-Mu dan mencintai seluruh makhluk ciptaan-Mu tanpa sedikitpun mengetahui alasannya. 

0 komentar: