Beberapa hari yang lalu, desa ku di daerah Malang coret sedang mati lampu selama beberapa jam. Hal yang membuat mati lampu kali ini m...

Mati Lampu



Beberapa hari yang lalu, desa ku di daerah Malang coret sedang mati lampu selama beberapa jam. Hal yang membuat mati lampu kali ini menjadi istimewa adalah karena tepat terjadi di waktu maghrib hingga malam. Sangat terasa. Entah apa yang terpikir saat itu, aku merasa senang saja. Bintang-bintang yang biasanya tak terlihat ketika malam, kali ini menjadi terlhat jelas, gemerlap taburan bintang di awan menjadikan resonansi malam sangat spesial. Nilai tambahnya, saat itu sedang padhang bulan, sangat cantik sekali. Aspek sosialnya, saat mati lampu, banyak yang duduk di depan rumah sambil berbincang-bincang dan rasan-rasan ala ibu-ibu desa. Ini biasanya tak pernah terjadi di setiap malam. Desaku, jam tujuh sore saja sudah kelihatan seperti makam, sepi, krik-krik banget dah. 

Teorinya sederhana, untuk melihat cahaya, kita perlu berada dalam kondisi yang gelap. Begitu juga dengan munculnya bintang-bintang sehingga sampai kepada tangkapan mata ku. Karena lingkungan sekitarku gelap gulita, sehingga cahaya di atas dapat terlihat. Aku berpikir banyak hal ketika mati lampu itu, salah satunya adalah nikah. Eh, anu, maksudnya, aku berpikir mengenai betapa asyiknya kehidupan mati lampu di saat yang tepat. Bayangkan saja, ketika desa menjadi gelap, berapa juta uang yang telah kita hemat, berapa banyak sumbangsih kita kepada alam, atmosfer, lapisan ozon. Dan yang paling terasa bagiku, ketika lampu mati, manusia berubah mnejadi baik sehingga mampu menyesuaikan dan tidak menganggu binatang-binatang nocturnal. Cahaya yang biasanya kita hasilkan tak lagi menjadi ancaman. Apalagi kalau nikah, pasti asyik, berdua di depan lilin sambil suap-suapan, bahasa inggrisnya, Mangan dikancani srengenge lilin. 

Ada hal yang penting juga, rupanya mati lampu membuat kita sadar pentingnya cahaya. Juga, dalam keadaan gelap, kita lebih jelas dalam melihat cahaya. Bagaimana jika ternyata ini ada kaitannya dengan fenomena sosial-religi. Maksud saya, orang yang sudah soleh dan suci, itu identik dengan cahaya. Sedangkan yang masih brutal, preman, penuh dosa, selalu dianalogikan dengan kegelapan. Pantas saja jika banyak sekali orang yang awalnya pecandu narkoba, preman, tiba-tiba hijrah luar biasa menuju sosok yang bahkan sebelumnya ia tak pernah duga. Rupanya, kesucian dan cahaya Allah ini terlihat jelas oleh mereka yang sedang berada dalam ‘kegelapan’. Sedang manusia yang berada di tengah-tengah, antara cahaya dan gelap, biasanya hidupnya mamang, mudah terombang-ambing karena masih masa pencarian. Pasti ada dan pernah menemui seseorang yang kemarin terlihat sangat suoooooleh, sangat suooolehah, eh ternyata besoknya menjadi biasa-biasa saja. Tidak apa-apa, itu merupakan suatu proses. Semua berhak berjalan pada proses autentiknya masing-masing untuk menempuh hijrah. Yang jadi masalah adalah, kenapa hijrah saat ini menjadi komoditas alias barang dagangan, Ya Allah. Mengatasnamakan kelompok hijrah menjadi suatu cahay dan kelompok yan belum hijrah menjadi suatu kesan negative yang bisa dibilang ‘lebih buruk dari mereka’. Bukankah kita semua ini masih dalam tahap, ‘Ihdinas Syirathal Mustaqiim’. TUNJUKILAH KAMI JALAN YANG LURUS. Kita masih mengais-ngais petunjuk, jadi jangan pernah merasa bahwa diri kita sudah tahu jalan, sedang yang lain masih tersesat. 

Sedang kelompok cahaya yang sudah teruji cahaya nya, tak perlu kita negasikan keberadaannya. Bersumber dari Nur Muhammad, kemudian menjadi Muhammad, sehingga memancarkan cahaya-cahayanya kepada para sahabat, hingga alim ulama saat ini, merekalah cahaya yang memnatulkan gelombang terang sehingga kita yang masih dalam kegelapan ini bisa menangkap gelombang cahaya itu. Karena semua hakikatnya adalah cahaya, namun, cahaya kita masih sering redup, menyala pun masih belum terang. Yang kita bisa lakukan adalah meminta energy untuk mengoptimalkan cahaya kita kepada Sang Cahaya itu sendiri, Nuurun ala Nuur. Cahaya dari cahaya, Allah. 

Ya Allah, kenapa mati lampu ini bisa begitu nikmat. Lebih nikmat jika sudah nikah. Hmmm…dasar jomblo. 

0 komentar: